Riau, Kota Diatas Awan

Just want to share one of my assignment when I was on senior high school. Yes, I made an essay.


 

Semua makhluk hidup yang ada dimuka bumi ini tentu diciptakan untuk tujuan tertentu. Mereka saling melengkapi. Kalaupun ada yang merugikan, bagi sebagian orang itu sangat menguntungkan. Seperti halnya manusia dan alam. Bukankah sudah jelas dalam semua ajaran manusia memiliki tugas untuk menjadi penjaga alam? Ya, penjaga. Menjaga dengan sepenuh hati, menjaga dari tangan-tangan tidak bertanggung jawab. Menjaga dengan segenap jiwa, jika mereka masih ingin menikmati alam dengan indahnya.

Manusia merupakan makhluk yang paling sempurna. Diberi akal dan pikiran. Seharusnya kita bisa bertindak lebih bijaksana bukan? Menerima segala kemajuan zaman dengan memilahnya terlebih dahulu. Kita mengetahui mana yang benar dan tidak. Tapi tidak ada bukti dalam pengaplikasiannya bahwa kita memiliki akal dan pikiran. Alam ini sudah berlubang, sudah rusak, sakit. Kerusakan diamana-mana, pencemaran dimana-mana, hutan gundul, tanah longsor, sungai penuh limbah, laut tercampur dengan zat berbahaya, sampah menggunung disetiap sudut tempat. Kemana perginya para penjaga? Bukankah waktunya mereka untuk bekerja? Tidak, tidak ada penjaga lagi. Penjaganya berkhianat. Mereka lebih memilih menjadi penjaga yang lain, yang lebih menguntungkan untuk kehidupan dunia. Mereka lupa kalau mereka hidup diatas alam ini, bukan hidup diatas kasur yang empuk dengan harga selangit, bukan hidup didalam beton-beton yang mereka bangun sekuat tenaga demi terlindungi dari segala marabahaya. Bukan.

Lihatlah Kota Riau. Kota yang saat ini berada diatas awan. Bukan, Riau bukan kota yang seperti di negeri dongeng, bukan awan yang putih dan bersih. Awan itu sangat menakutkan, menyebarkan penyakit, merusak alam, bahkan menelan korban jiwa. Banyak orang bertanya-tanya apa yang sedang terjadi di kota bersejarah ini. Tentu berita ini tidak begitu heboh, masalah lingkungan kalah pamor dengan para pejabat yang sibuk menimbun tabungan. Riau sedang sakit. Awan itu berasal dari asap pembakaran hutan. Riau dinilai memiliki kekayaan alam yang bernilai tinggi. Kota yang strategis untuk memperkaya diri. Akhirnya, tangan-tangan kotor dan tidak bertanggung jawab ini melakukan jalan pintas. Untuk membuka lahan, mereka membakar hutan-hutan yang ada. Cara ini lebih efisien, cepat, murah, sekaligus kejam. Daripada mereka harus menebang satu-persatu pohon yang ada. Cara itu membutuhkan waktu yang lama. Mereka takut sebelum selesai menebang dan membuka usaha, mereka sudah berada dibalik jeruji besi.

Miris memang. Akal dan pikiran mereka sudah tidak berfungsi lagi. Tentu mereka sangat sadar dan paham akibat yang bisa terjadi atas perbuatan mereka. Keseimbangan alam menjadi rusak, para binatang yang kehilangan tempat tinggalnya, warga sekitar menjadi terganggu kesehatannya. Dan anak-anak yang seharusnya bisa bermain dengan bebas kini dihantui asap yang mengerikan. Hanya bisa diam didalam rumah menunggu datangnya keajaiban yang akan mengembalikan keadaan seperti semula. Mereka yang kehilangan akal dan pikirannya itu tidak mau tahu. Mereka tidak peduli. Mereka memiliki urusan yang lebih penting dari semua itu.

Lantas apa lagi yang diharapkan para korban tidak bersalah ini? Pemerintah yang dijadikan harapan satu-satunya pun entah kemana. Pemerintah terlalu lamban menyelesaikan masalah yang sudah parah ini. Atau mereka juga takut kesehatannya terganggu? Takut asap-asap mengerikan itu mengotori pakaian mereka yang dibuat dengan edisi terbatas? Riau butuh pertolongan. Riau butuh janji yang dulu diucapkan dengan lantangnya, dengan beraninya. Janji akan kesejahteraan, kemakmuran, dan keamanan hidup. Lupakah mereka akan semua itu? Semoga saja tidak.

Tapi, masyarakat Riau tidak berputus asa. Setiap masalah yang terjadi pasti ada hikmah dan jalan keluarnya. Mereka percaya akan hal itu. Semoga mereka selalu dalam lindungan-Nya. Semoga pemerintah cepat bangun dari tidurnya dan segera menangani masalah ini. Semoga mereka yang menyebabkan masalah ini sadar dan menyesali apa yang telah diperbuat. Cukup Riau yang menjadi korban. Semoga Riau tidak hilang ditelan awan. Semoga Riau cepat sembuh dari sakitnya.

 

About Flowry Adni Jannatia

Cirebonese-Who doesn’t love banana? Give it to me.